KONSTRUKS SOSIAL BUDAYA DALAM DAKWAH KONTEMPORER
KONSTRUKS SOSIAL BUDAYA DALAM DAKWAH KONTEMPORER
Makalah ini dibuat untuk memenuhi
tugas
Mata Kuliah : Sosiologi dan
Antropologi Dakwah
Dosen Pengampu : Masudi, S.Fil.I.,
M.A
Oleh :
Muhammad
Luthfi Syaf (1740210066)
KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM / KPI
INSTITUT AGAMA
ISLAM NEGERI KUDUS
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Pembahasan
tentang dakwah kontemporer yang mengangkat isu-isu terkait dengan pertumbuhan
dunia dakwah modern. Setiap pribadi dalam wilayah
moderniasasi niscaya memahami bahwa perkembangan teknologi di dunia global
menggiring setiap orang dari mereka untuk mengisi perkembangan yang ada
dengan mutu-mutu kemanusiaan yang bisa dipertanggungjawabkan dan bermanfaat.
Eksistensi manusia sebagai zoon politicon akan menjadikan mereka bermetamorfosa
dengan lingkungan yang ada sesuai dengan kecenderungan lingkungan yang
mengitari. Tak pelak lagi, situasi yang
tergambar serupa ini menjadikan hakikat kemanusiaan itu
sendiri terus diuji dan diperjuangkan. Manusia dengan keberadaannya akan terus
ditekan agar menjadikan globalisasi yang sudah identik dengan industri untuk
merespon dan mengisi ruang-ruang yang ada sesuai dengan kecenderungan sosial yang
diinginkan. Pada akhirnya, kesiapan sumber daya manusia dalam dunia global
menjadi titik pangkal yang mutlak dihadirkan dan diwujudkan.
Globalisasi yang
tercakup di dalamnya ruang-ruang eksplorasi setiap pribadi, keberadaannya
akan mengukuhkan, pribadi yang positif dan kuat akan menjadi lebih
stabil menjaga situasi-situasi dunia global yang sarat tekanan.
Sementara itu, bagi pribadi-pribadi yang tidak mampu menyanggah
globalisasi tersebut secara baik, maka keberadaannya akan menjadi budak bagi perkembangan
industri dalam dunia global tersebut.
Produksi
lain yang bisa dilihat dari hasil imaji teknologi di dunia global adalah televisi. Sebagai
salah satu produk dari perkembangan dan
pertumbuhan dunia global, televisi hadir di tengah-tengah kehidupan masyarakat
untuk memberikan sumbangan wawasan atas
berbagai informasi yang terdapat di luar mereka. Secara gamblang dapat pula
diilustrasikan bahwa keberadaan televisi
di tengah-tengah kehidupan masyarakat
diorientasikan untuk memberikan saluran informasi yang bisa diakses guna
mengetahui kejadian-kejadian sosial yang terdapat di sekitar mereka. Lebih
lanjut pula, televisi juga ditujukan untuk memberikan hiburan dengan aneka
program yang telah disiapkan oleh para
pihak produksi.
Dengan
lahirnya dakwah kontemporer ini, para penda’i dapat bersaing secara sehat
dengan ilmu-ilmu lainnya yang telah berkembang begitu cepat, apalagi dengan
lahirnya internet yang makin hari makin canggih dan makin mudah mempengaruhi
orang lain. Karena itu kita sebagai pendakwah jangan mau kalah saing dengan
ilmu-ilmu lainnya. Disini pemakalah akan
mencoba memaparkan seperti apa dan seberapa penting dakwah sosial kontemporer itu dalam kehidupan era sekarang ini.
B. RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa Konstruks
Budaya Sosial Media Dakwah ?
2.
Apa Teori
Konstruksi Sosial ?
3.
Apa Manfaat
Konstruksi Sosial ?
4.
Apa Pengertian dari dakwah kontemporer ?
5.
Bagaimana
Metode Dakwah untuk Menghadapi Problematika Dakwah Kontemporer ?
6.
Bagaimana Peran Televisi sebagai
Instrumen Dakwah Kontemporer ?
7.
Apa Peran Media Dalam Merumuskan Dakwah ?
C. TUJUAN PENULISAN .
1.
Untuk
mengetahui dan memahami Konstruks Budaya
Media Dakwah dan peran dakwah kontemporer
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Konstruks Sosial Media dakwah
Dalam teori konstruksi sosial, setidaknya ada beberapa tokoh yang
mengembangkan teori tersebut atau teori yang mendukung. Sebut diantaranya,
Derrida, Habermas, Berger dan Luckmann. Konsep konstruksi sosial atas realitas
sosial bagi Berger dan Luckmann, individu dan masyarakat ditempatkan sebagai
objek dalam proses eksternalisasi,
subjektifikasi, dan internalisasi. Selain itu, mereka juga menempatkannya
sebagai pencipta realitas sosial yang dikonstruksikan dalam setiap tahap
konstruksi.
Keberadaan media massa di tengah masyarakat sangat urgen bahkan mampu
mempengaruhi pola pikir bahkan perilaku masyarakat. Ketika sebuah peristiwa
dikonstruksi media menjadi tayangan bermuatan dakwah dan diakses publik yang
meliputi umat Islam selaku mad’u, tentu konstruksi media atas teks atau
tayangan dalam konstruk dakwah merupakan harapan bagi pengembangan dakwah
melalui media massa yang diyaikini pengaruhnya signifikan. Pola ini juga digunakan
Burhan Bungin dalam mengamati konstruksi sosial media terkait dengan iklan
televisi.
Tayangan
media yang bermuatan dakwah didekonstruksi oleh pemirsa selaku mad’u. Proses
dekonstruksi terjadi melalui proses penafsiran kemudian menjadi realitas sosial
baru dalam kesadaran umum melalui tahap eksternalisasi, subjektifikasi, dan
internalisasi yang berlangsung dalam proses konstruksi sosial dakwah dalam
media. Konstruksi media tidak terlepas dari realitas masyarakat sehingga proses
konstruksinya berpijak pada peristiwa yang kemudian menjadi realitas yang
direkayasa media sebagaisebuah tayangan menarik. Dalam kaitannya dengan dakwah,
konstruksi sosial media dilihat sejauhmana media memuat tayangan atau
pemberitaan keagamaan yang diakses publik sehingga implikasinya akan
mempengaruhi opini dan perilaku masyarakat secara umum dalam kehidupan sosial
keagamaan. Salah satunya melalui pemberitaan media.[1]
Kegiatan dakwah
diorientasikan untuk transformasi personal dan kolektif umat ke arah yang lebih baik serta meminimalisir
kemunkaran. Idealitas dakwah tersebut
berhadapan dengan realitas
kehidupan masyarakat yang lebih mengarah pada aspek pragmatisme ditengah
menjamurnya budaya pop dan cenderung mengabaikan agama. Hal ini tidak terlepas dari kontribusi media pada sisi
negatifnya mampu mempengaruhi hingga merubah pola piker hingga perilaku masyarakat yang paradoks dengan
nilai-nilai budaya dan agama.Aktivitas dakwah menjadi keniscayaan dengan
melakukan inovasi-inovasi dalam menjaga
eksistensi agama secara berkesinambungan. Dalam hal ini, Islam sebagai agama dakwah (missionary religion) menjadikan
kegiatan tersebut sebagai perekat terpeliharanya nilai-nilainya Islam. Proses transmisi pesan-pesan
dakwah dari seorang dai kehadapan khalayak
mad’u yang menjadi sasaran dakwah, tentunya dalam bingkai amar ma’ruf nahi mungkar (menyeru pada kebaikan dan
mencegah kemunkaran).[2]
1.
Teori Konstruksi Sosial
Teori konstruksi
sosial sebagaimana yang digagas oleh Berger dan Luckman[3] menegaskan,
bahwa agama sebagai bagian dari kebudayaan merupakan konstruksi manusia. Ini
artinya, bahwa terdapat proses dialektika antara masyarakat dengan agama. Agama
yang merupakan entitas objektif (karena berada di luar diri manusia) akan mengalami
proses objektivasi sebagaimana juga ketika agama berada dalam teks dan norma.
Teks atau norma tersebut kemudian mengalami proses internalisasi ke dalam diri
individu karena telah diinterpretasi oleh manusia untuk
menjadi guidance atau way of life. Agama juga mengalami
proses eksternalisasi karena agama menjadi sesuatu yang shared di
masyarakat.
Sosiologi
pengetahuan dalam pemikiran Berger dan Luckman,[4] memahami
dunia kehidupan (life world) selalu dalam proses dialektik antara the
self (individu) dan dunia sosio kultural. Proses dialektik itu mencakup
tiga momen simultan, yaitu eksternalisasi (penyesuaian diri dengan dunia
sosio kultural sebagai produk manusia), objektivasi (interaksi dengan dunia
intersubjektif yang dilembagakan atau mengalami institusionalisasi), dan
internalisasi (individu mengidentifikasi dengan lembaga-lembaga sosial
atau organisasi sosial tempat individu menjadi anggotanya)
Mengikuti konstruksi sosial Berger,
realitas sosial pluralisme agama menjadi terperlihara dalam teks-teks agama
bagi umat beragama. Doktrin agama pun akhirnya berhasil melegitimasi wacana
“pluralisme agama” tersebut, terlebih ketika agama dijadikan sebagai ideologi
negara. Walhasil, bagi umat beragama, “pluralisme agama” menjadi sebuah
realitas sosial yang tak terbantahkan, bahkan mustahil untuk dihilangkan.
Demikian pula wacana yang mengiringinya, “dialog antaragama” atau dialog
antariman (interfaith dialogue).
2.
Manfaat Konstruksi Sosial
Kajian
konstruksi sosial ini yang memberikan pengetahuan tentang konsep diantaranya: Proses terjadinya konstruksi sosial,
konsep tentang bentuk atau ciri realitas sosialyang dibangun dalam media
televisi, seperti iklan televisi, disitu akan muncul makna darisuatu symbol
realitas media massa yang dibangun dari iklan televisi tersebut. Berdasarkan
haltersebut kajian teori ini bermanfaat secara praktis untuk mengungkapkan
realitas mediamassa dan realitas iklan televise, dalam konteks kehidupan sosial
masyarakat saat ini.
1.
Bagi media massa
dan dunia usaha periklanan yang memanfaatkan televisi sebagai rujukan penting dalam rancangan iklan diwaktu
yang akan datang Contohnya : seperti iklan tolak angin yang bunyinya “orang
pintarminum tolak angin”dll.
2. Bagi dunia akademisi, bermanfaat untuk pengembanagan
media
3. Bagi pemerintah maupun
masyarakat luas kajian teori ini bergunasebagai bahan masukan untuk
pengembangan di bidang periklanandi pertelevisian Indonesia.
4.
Dakwah
Kontemporer
Dakwah
kontemporer adalah dakwah yang dilakukan dengan cara menggunakan teknologi yang
sedang berkembang. Dakwah kontemporer sangat cocok dilakukan dilingkungan kota
atau masyarakat yang memiliki latar belakang pendidikan menengah atas. Dalam
Al-Quran dijelaskan dakwah kontemporer dilakukan dengan cara mengikuti
teknologi yang sedang berkembang.
Dakwah kontemporer yang memanfaatkan
teknologi modern lebih banyak manfaatnya dari pada dakwah kultural yang masih
harus menyesuaikan dengan kondisi budaya masing-masing daerah. Materi dakwah
yang tepat untuk menghadapi masyarakat modern ini adalah materi kajian yang
bersifat tematik. Artinya Islam harus di kaji dengan cara mengambil tema-tema
tertentu yang sesuai dengan tuntutan zaman.
Sedangkan
fasilitas yang tepat adalah dengan menggunakan media cetak dan elektronik.
Kenapa demikian ? Karena dengan menggunakan media cetak dan elektronik hasilnya
akan lebih banyak serta jangkauannya lebih luas.[5]
3.
Bagaimana Metode Dakwah untuk
Menghadapi Problematika Dakwah Kontemporer.
Metode dakwah
adalah cara mencapai tujuan dakwah, untuk mendapatkan gambaran tentang
prinsip-prinsip metode dakwah dan teknis dakwah kontemporer serta dakwah
kultural. Jika dakwah kultural dilakukan dengan cara menyesuaikan budaya
masyarakat setempat, sedangkan dakwah kontemporer dilakukan dengan cara
mengikuti teknologi yang sedang berkembang. Persaingan di bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi dewasa ini, khususnya dalam bidang periklanan adalah
merupakan tantangan bagi para da’i untuk segera berpindah dari kebiasaan
dakwah kultural ke dakwah kontemporer.
Metode Dakwah Islam
yang menekankan ada tiga prinsip umum metode dakwah yaitu:
·
Metode
hikmah menurut Syeh Mustafa Al-Maroghi dalam tafsirnya mengatakan bahwa
hikmah yaitu Perkataan yang jelas dan tegas disertai dengan dalil yang
dapat mempertegas kebenaran, dan dapat menghilangkan keragu-raguan.
·
Metode mau’izah
khasanah Ibnu Syayyidiqi adalah memberi ingat kepada orang lain dengan
pahala dan siksa yang dapat menaklukkan hati.
·
Metode mujadalah
dengan sebaik baiknya berdakwah menurut Imam Ghazali dalam kitabnya
Ikhya melakukan tukar pikiran itu tidak beranggapan bahwa
yang satusebagai lawan bagi yang lainnya, tetapi mereka harus menganggapbahwa para
peserta mujadalah atau diskusi itu sebagai kawan yang saling tolong
menolong dalam mencapai kebenaran. Demikianlah antara lain
pendapat sebagian Mufassirin tentang tiga prinsip metodetersebut.
4.
Peran Televisi sebagai Instrumen Dakwah Kontemporer.
Melirik televisi
sebagai salah satu instrumen atau media dalam penyampaian dakwah merupakan
tuntutan yang harus disadari olehh setiap insan dakwah. Hal ini menggarisbawahi
bahwa pertubuhan dunia televisi dalam laju globalisasi merupakan fakta yang
tidak bisa dibendung. Kehadiran televisi telah menyita ruang sosial di
masyarakat sehingga keberadaannya tidak bisa dikesampingkan dari sebuah proses
untuk membentuk masyarakat itu sendiri. Masyarakat dengan hadirnya televisi
telah dibentuk konstruk budaya, politik, sosial, ekonomi, dan bahkan pemahaman
keagamaan dan keberagamaan mereka.[6]
Menggaris bawahi televisi sebagai
sebuah media, makakehadirannya dalam analisis dakwah menjadi sebuah konsepyang
akan menjadikan masyarakat dikenalkan dan dijelaskan tentang nilai-nilai dasar
dalam dakwah. Menurut Moh. Ali Aziz (2009: 403), tidak banyak pakar Ilmu Dakwah
menyebutkan media dakwah sebagai salah satu unsur dakwah. Media dakwah merupakan
unsur tambahan dalam kegiatan dakwah. Maksudnya, kegiatan dakwah dapat
berlangsung, meski tanpa media dakwah. Seorang ustadz yang sedang menjelaskan
tata cara tayammum kepada seorang tamu di rumahnya adalah salah satu contoh
dakwah tanpa media. Hal tersebut jika berpegangan bahwa mediaselalu merupakan
alat atau sarana untuk menyampaikan pesan dakwah kepada mitra dakwah. Lebih
lanjut, mengutip dari Gerlach dan Ely dalam Arsyad, Moh. Ali Aziz menyebut
secara garis besar media meliputi manusia, materi dan lingkungan yang membuat
orang lain memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Jika berpegangan
pada pendapat terakhir, maka pendakwahKitab Suci al-Qur’an dan hadis yang
sedang didiskusikan, suasana pelaksanaan dakwah merupakan media dakwah.
Demikian juga berarti tidak ada dakwah tanpa media. Ketika Rasulullah saw.,
memberi nasehat kepada seorang sahabat yang menemuinya, maka Rasulullah saw.,
adalah media dakwah itu sendiri.
Keberadaan
televisi dalam lingkup kemandirian dakwah memperjelas bahwa pertumbuhannya di
era global bisa mengantarkan seorang figur yang aktif berperan di dalamnya
lebih dikenal luas di masyarakat. Keberadaan seorang dai yang dikemas dalam
dunia entertainment akan menjadi semakin kuat untuk dilihat partisipasi dirinya
bagi pertumbuhan keagamaan di masyarakat. Partisipasi mereka di dunia
pertelevisian akan memperjelas bahwa kehadiran mereka di wilayah virtual
semakin menjadikan mereka lebih dikenal dalam lingkup khalayak luas.[7]
5.
Peran & Kontribusi Media Dalam Merumuskan Dakwah
Media dakwah yang bisa dikembangkan
secara realistis adalah media dakwah yang mampu memberikan jembatan niscaya
akan pemenuhan hajat dasar masyarakat tentang materi-materi dakwah yang
dibutuhkan. Materi-materi dakwah tersebut tentunya materi yang bisa mengilhami
orang banyak untuk menggiring mereka semakin mengenal dan mempelajari dunia
dakwah semakin luas dan komprehensif.
Usaha-usaha untuk mengenalkan
dakwah terhadap masyarakat menjadi
tanggung jawab besar semua insan dakwah yang ada di masyarakat. Keberadaan
mereka di masyarakat secara niscaya dituntut untuk mengajarkan masyarakat akan
arti penting dakwah bagi keberlangsungan
kehidupan sosial mereka. Dakwah dalam keberadaannya harus mampu mencerahkan
setiap pribadi sehingga pada akhirnya keberadaan tersebut akan selalu ditunggu
dan dinanti bagi pembentukan realitas sosial kemasyarakatan yang lebih bermutu.
Untuk alasan inilah, tuntutan terbesar bagi insan dakwah adalah mengkemas
dakwah dalam bingkai yang cukup mengakomodir kebutuhan-kebutuhan realistik
masyarakat. Pemahaman mereka akan kebutuhan ini akan menggiring terciptanya
kondisi masyarakat yang lebih baik dan mengarahkan aktivitas-aktivitas
keummatan ke arah yang lebih bermutu. Tanpa menafikkan banyaknya media yang
bisa diwujudkan demi menyampaikan pesan-pean utama dakwah, media televisi bisa
dimasukkan sebagai realitas umum yang terdapat dalam perkembangan sosial
keagamaan masyarakat. Hal ini sebagaimana juga dibenarkan oleh Ali Aziz (2009:
425) bahwa saat ini, tidak ada satu
detik pun yang lewat dari roda kehidupan masyarakat tanpa tayangan televisi,
baik nasional dan internasional dengan berbabgai alat-alat komunikasi yang
canggih, dan tidak ada satu wilayah pun yang tidak bisa dijangkau dengan media
ini. Sampai-sampai alat ini telah mengubah dunia yang luas ini menjadi dusun
besar (global village). Pendek kata daya tarik TV sampai hari ini belum ada
yang menandingi demikian juga pengaruhnya.
Mengamati peran dan kontribusi
televisi dalam ruang dakwah masyarakat bisa dilihat pada keberadaannya di
tengah tengah masyarakat. Kelebihan
televisi sebagai media dakwah dibandingkan dengan media lain adalah: Media
TV memiliki jangkauan yang luas sehingga ekspansi dakwah dapat menjangkau
tempat yang lebih jauh bahkan tempat terpencil, yang selama ini tak pernah
disentuh oleh kegiatan dakwah. Pesan-pesan dakwah bisa disampaikan pada mad’u
(penerima dakwah) yang berada di tempat-tempat yang sulit dijangkau. Media
televisi mampu menyentuh mad’u yang heterogen
dalam jumlah yang sangat besar.
Hal ini sesuai dengan salah satu
kharakter komunikasi massa, yaitu komunikan yang heterogen dan tersebar luas.
Kelebihan ini jika dimanfaatkan dengan baik tentu saja akan berpengaruh positif
dalam pengembangan aktifitas dakwah. Seorang da’i yang bekerja dalam ruang yang sempit dan
terbatas bisa menjangkau mad’u yang jumlahnya bisa jadi puluhan juta dalam satu
kegiatan dakwah di media.
Keberadaan media televisi yang
“unik” mampu menampung kreativitas dan
metode dakwah, sehingga hal ini akan membuka peluang bagi para da’i untuk juga
memacu kreatifitasnya dalam menyampaikan metode dakwah yang paling efektif bagi
khayalak. Media televisi bersifat
audio-visual (suara dan gambar),
ehingga memungkinkan dakwah yang dilakukan melalui televisi ini bisa
menampilkan juru dakwah dengan segala aspek non-verbal. Dakwah juga bisa
dibarengi dengan visualisai gambar yang bisa memperkuat dalam penyampaian
pesan-pesan komunikasi dakwah.[8]
BAB III
KESIMPULAN
Keberadaan
media massa sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial masyarakat. Media
massa mampu membangun opini bahkan mengubah perilaku masyarakat secara luas.
Seiring dengan itu, kehadiran media membawa nilai positif juga negatif.
Sementara itu, aktivitas diarahkan membentuk perilaku yang baik bagi masyarakat
sehingga media diharapkan juga dapat memberi kontribusi melalui pemberitaan
dalam pengembangan dakwah dalam masyarakat.
Kegiatan
dakwah menjadi semarak dengan merambah dunia media massa yang terintegrasi.
Dalam perkembanganya, media mampu melakukan rekonstruksi sosial dalam membentuk
opini publik terhadap realitas di tengah-tengah masyarakat. Keberadaan media
massa di tengah masyarakat sangat urgen bahkan mampu mempengaruhi perilaku
masyarakat bahkan pola pikir.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Nurul Syobah. Konstruksi Media Massa Dalam Pengembangan Dakwah.. Vol. 14, No. 2, Desember 2013.
Berger, Langit Suci: Agama sebagai Realitas Sosial (Jakarta:
LP3ES, 1991.
Mas’udi.2016 At-Tabsyir. Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam. Vol.
4, No. 2.
Wahyu Ilaihi, S.Ag., MA
& Harjani Hefni, LC., MA, Pengantar Sejarah Dakwah,Jakarta: Prenadamedia
Groub, 2007.
[6] Mas’udi.Dakwah Kontemporer Dalam Bingkai Dakwahtainment. dalam At-Tabsyir.
vol.4 No.02 Desember 2016.
[7] Mas’udi.Dakwah Kontemporer Dalam Bingkai Dakwahtainment.
dalam At-Tabsyir. vol.4 No.02 Desember 2016.Desember 2016.
[8] Mas’udi.Dakwah Kontemporer Dalam Bingkai
Dakwahtainment. dalam At-Tabsyir. vol.4 No.02 Desember 2016.Desember 2016.








0 komentar: